Rabu, 14 September 2016

Perindu Surga

Yakinlah! Ketika hatimu mulai berputus asa di antara kebimbangan menghadapi dilema dalam sebuah perjuangan, saat itulah kamu harus tanyakan kepada sesosok hati nurani : "Mengapa harus berputus asa? Apakah engkau masih meragukan Pertolongan & Kemampuan Allah?"

Sungguh luar biasa kelezatan iman dirasa bagi jiwa - jiwa perindu Surga, bagi hati penanti ampunan, bagi raga pengharap kasih RabbNya.

  Kami ingin menjadi salah satu pemilik jiwa itu, pemilik hati itu, pemilik raga itu. Bukan, kami bukan seorang Mujahidah, tapi hanya sekelompok orang yang ingin menolong Dien nya tegak di atas Dien - Dien yang lain. 

Bawalah diri kami menuju Empat tiang & tiga gerbang Keridhaan. Semangat yang tinggi, jiwa yang suci bersih, serta teguhnya pendirian. Karena, jika Ridha telah memenuhi jiwa dan meresap erat di Qalbu maka pastilah nikmat di akhir perjuangannya.

Begini saja, 47:7

Jumat, 26 Agustus 2016

Khalid Bin Walid

*KISAH PANGLIMA PERANG YANG DIPECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN

Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim.

Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid. Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, _"Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai "Pedang Allah yang Terhunus". 

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. Itulah "Khalid bin Walid", beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak. Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas. 

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!." Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu. Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya. 

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?" "Waalaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah. "Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?.", "Kamu tidak punya kesalahan.", "Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?" , "Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik." , "Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya. Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong'' , ''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

 Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar. Sambil menangis beliau berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!". Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi. 

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, 'kegagalan' atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat.....bahkan hingga yang paling ekstrim.... Tuhan pun digugat.. Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin. Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, _"Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."_ Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, -"Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah-."

#Masyaa Allah. Lalu, adakah Khalid Bin Walid masa kini? :) 

Rabu, 27 Juli 2016

Puisi Ukhuwah

Senyum nampak terlihat di raut wajah mereka tatkala alunan Qur'an mengalir di daun - daun telinga

Memanggil jiwa-jiwa yg senantiasa rindu ingin menyucikan rasa

Bahagia bersatu dalam ikatan kata yg akan terukir di dalam Surga

 ~ Ukhuwah ~

Poem By : Nazar Aprilliyanti

Rabu, 20 Juli 2016

S3 (Single Sampai Sah)

Assalamu'alaikum WarahmatUllah.
Hallooo para jombloers atau singleers atau apapun namanya
.
Cinta itu fitrah, karena fitrah, maka kita harus menjaga kefitrahannya, maka kita harus menjaga kesuciannya. Sucikanlah cinta dengan sebuah ikrar, sebuah perjanjian besar, penantian panjang yang diisi dengan mendekatkan diri pada Illahi Rabbi akan manis pada akhirnya, akan indah pada waktunya.
.
Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau teguk) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa perihnya menanti dia sang imam kehidupan.
.
Dear kita, menurutku, langkah kita sudahlah benar. Ingat janji Allah, bahwa lelaki yang baik untuk wanita yang baik ;).
.
So, pantaskan diri, jika cinta tak tertahankan, pasang benteng tertinggi dalam hatimu, hingga cintamu padaNya, mengalahkan sejuta cinta pada makhlukNya.
.
Salam ukhuwah,  ~ Nazar Aprilliyanti
.
Syawal 1437 H

Selasa, 19 Juli 2016

Puisi? Luapan Rasa

Kicauan burung merayuku untuk hidup setelah matiku.
Aku bersyukur ternyata masih ada surga dalam dunia


Dingin yg menusuk jiwa tak membuatku ingin memejamkan mata, menarik selimut dan memeluk mimpi untuk yang kedua kalinya

Kini hanya tiga kata yang melesat dari bibirku

Indahnya negeri ini

Wahai gunung,
apa yang ada dalam kandunganmu sehingga kau membuatku ingin semakin dekat denganmu.
Tahukah engkau, deretan kekasihmu membuat jantungku tersentuh bak mendengar ikrar
 

Hembusan udara menari dipelupuk mataku seolah ia mencintaiku.
Mengalun bak alunan merdu sang penyanyi lagu. Bersih, sejuk, membuat dingin qalbu.

Aku suka warna pekatmu, aku tak ingin siang datang merenggut warnamu hingga kau menjadi jingga dan abu

Aku hanya ingin disini, duduk terdiam hingga senja menenggelamkan siangmu dan aku dapat bertemu warna kesukaanku pada dirimu
 

Tahukah engkau wahai langit? Di setiap udara yang ku temukan disampingmu, disetiap nafas panjang yang ku hela, aku percaya disitu ada Allah yang senantiasa mendengar do'a-do'aku

Do'a yang kupanjatkan agar kau tak menua, do'a yang ku katakan agar kau tak risih mendengar bising industri, do'a yang kulantunkan agar kau terlindungi dari mereka yang tak tahu diri, serta do'a yang dipersembahkan agar engkau selalu seperti ini, kumohon selalu seperti ini. Indah dipandang dan menenangkan hati

Aku cinta kamu Indonesia

~Captured By : Menurseto Mawaddah
~Poem By : Nazar Aprilliyanti

Puisi Dunia


Dunia, keindahanmu membuat hatiku terpana.
Surgamu membuat langkahku mencari dimana kamu berada

Aku takut

Aku takut kehilangan arah
Aku takut tersesat dalam hatimu
Aku takut mati tanpa pernah melihatmu sama sekali

Namun, aku percaya
Aku percaya selalu ada pintu bagiku ketika aku mengetuk diriNya dalam do'a
Sehingga aku bisa melihatmu dan memeluk indah surgamu 

 ~Created By : Nazar Aprilliyanti

Kamis, 14 Juli 2016

Metamorfosisku Belum Sempurna

Dulu, aku hanyalah seonggok sepi yang tak berkasih sayang.
Dulu, aku bukanlah diriku yang sekarang. Dulu, aku hanyalah butiran debu yang terombang-ambing terseret arus zaman yang semakin suram.

Menurutku, Bandung adalah tempat terindah untuk sebuah pencarian. Pencarian yang berujung pada sebuah pemahaman tentang nikmatnya sebuah keIslaman.


Aku Hijrah

"Sesungguhnya aku harus berpindah ke Rabbku". QS. Al-Ankabut 26

Izinkan aku hijrah untuk menemukan sebuah arti kedamaian, untuk menemukan sebuah arti kehidupan, untuk menemukan sebuah arti pentingnya pendidikan Islam.

Kini aku paham, aku paham bahwa selama 23 tahun, uswahku tak hanya mengajarkan shalat saja, uswahku tak hanya mengajarkan shaum saja, uswahku tak hanya mengajarkan zakat saja. Tapi dia, uswah kita Rasulullah Muhammad SAW, mengajarkan kita untuk berIslam secara Kaaffah.
"Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan". QS. Albaqarah : 208.

Aku memang tak pandai berbicara, lidahku tak bisa banyak berkata-kata. Namun, aku selalu merintih dalam hati, akankah aku bisa mempertahankan hijrahku ini?

Menurutku, Hijrah itu mudah, namun istiqomahlah yang begitu susah. Karenanya, aku butuh kamu, aku butuh bersamamu untuk menyempurnakan hijrahku, aku butuh bersamamu untuk menyempurnakan metamorfosisku.

Yaa Robb, genggam tanganku, rangkul hatiku, arahkan langkahku untuk sampai pada genggaman mereka, untuk sampai pada hati mereka, dan untuk sampai pada langkah mereka yang sama-sama ingin sempurna dalam berIslam.